Fokus Penguatan Agama dan Adat Serta Rangkul Pemuda, Peri Konaldi Siap Pimpin Nagari Sikucua Timur

— Paragraf 1 —
Gebraknews.co.id, Pariaman – Di tengah dinamika pembangunan nagari yang kian kompleks, masyarakat membutuhkan pemimpin matang pengalaman, memiliki integritas, berpegang teguh pada nilai agama, memahami denyut kehidupan warganya, serta peduli kepada generasi muda.
— Paragraf 2 —
Bagi sebagian masyarakat, sosok tersebut dinilai ada pada diri Peri Konaldi, atau yang akrab dikenal sebagai Ustad Peri, tokoh muda yang dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan, sosial, dan organisasi kemasyarakatan.
— Paragraf 3 —
Pria kelahiran Linggeh, 4 Mei 1988 ini maju sebagai calon Wali Nagari Sikucua Timur, Kecamatan V Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Ia membawa gagasan pembangunan yang bertumpu pada kekuatan adat, nilai-nilai agama, kompetensi generasi muda, serta semangat kebersamaan masyarakat yang sejak lama menjadi ciri kehidupan di kenagarian Sikucua Timur.
— Paragraf 4 —
Nama Peri bukanlah sosok yang asing bagi masyarakat. Ia dikenal luas sebagai seorang ustad yang aktif membina generasi muda melalui pendidikan Al-Qur’an. Melalui TPQ Tahfidz Kampoeng Qur’an yang dipimpinnya, anak-anak dan remaja belajar membaca, menghafal, sekaligus memahami nilai-nilai Al-Qur’an. Selain itu, ia juga kerap mengisi pengajian di surau dan masjid di sekitar kenagarian Sikucua hingga luar daerah.
— Paragraf 5 —
Aktivitas tersebut membuatnya dekat dengan masyarakat. Bagi banyak orang tua, keberadaan Peri menjadi bagian dari upaya menanamkan fondasi agama yang kuat bagi generasi muda.
— Paragraf 6 —
Bila ditarik ke belakang, perjalanan hidup Peri sendiri tidak selalu berjalan mudah. Namun justru dari perjalanan itulah lahir keteguhan yang membentuk karakternya hari ini. Kisah hidupnya menjadi contoh bahwa semangat dan ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Sejak usia belia, ia harus menerima kenyataan pahit ketika sang ibu meninggal dunia. Kepergian ibunda tercinta memaksanya belajar mandiri lebih cepat dibandingkan banyak orang seusianya.
— Paragraf 7 —
Dalam kondisi yang serba terbatas, ia tetap bertekad melanjutkan pendidikan. Dengan kerja keras dan ketekunan, Peri akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana. Bagi dirinya, capaian itu bukan sekadar gelar akademik, melainkan bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.
— Paragraf 8 —
Di perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang yang kini telah berganti nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), Peri Konaldi menempuh pendidikan di bidang Hukum Islam dan meraih gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I.) dengan konsentrasi Hukum dan Politik Islam (Jinayah Siyasah). Pendidikan ini memberinya pemahaman tentang pentingnya tata kelola pemerintahan yang adil, transparan, dan berlandaskan nilai moral.
— Paragraf 9 —
Sebelum terjun dalam kontestasi kepemimpinan nagari, Peri memiliki pengalaman profesional di sektor keuangan syariah. Ia pernah bekerja di BMT Muhammadiyah Sumatera Barat sebagai Account Officer atau analis pembiayaan selama hampir satu dekade, dari tahun 2011 hingga 2019. Melalui pekerjaan tersebut, ia berinteraksi langsung dengan masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil.
— Paragraf 10 —
Dari pengalaman itu pula ia memahami pentingnya akses permodalan, pendampingan usaha, serta penguatan ekonomi berbasis masyarakat.
— Paragraf 11 —
Selain bekerja di sektor keuangan syariah, Peri juga pernah menekuni dunia usaha dengan berdagang di Kota Padang. Sebagai pelaku usaha, dia punya pemahaman nyata mengenai berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menjalankan usaha, mulai dari permodalan hingga pemasaran.
— Paragraf 12 —
Di sisi lain, pengabdian di bidang pendidikan agama tetap ia jalankan. Sejak masa Madrasah Tsanawiyah, ia sudah aktif menjadi guru mengaji. Hingga kini, kegiatan tersebut masih terus ia lakukan. Bagi Peri, membina generasi muda melalui pendidikan agama merupakan bagian penting dari membangun masa depan masyarakat.
— Paragraf 13 —
Perjalanan kepemimpinannya juga ditempa melalui berbagai organisasi. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam gerakan kepemudaan dan kemahasiswaan, yang memberinya pengalaman dalam mengelola organisasi dan membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.
— Paragraf 14 —
Beberapa organisasi yang pernah ia ikuti antara lain Ikatan Pemuda Muhammadiyah Sumatera Barat sebagai wakil bendahara pada tahun 2012, Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kasman Singodimedjo Kota Padang periode 2009–2010, serta Ketua Bidang Sosial Himpunan Mahasiswa Jurusan pada periode 2007–2008.
— Paragraf 15 —
Ia juga pernah terlibat dalam Forum Komunikasi Madrasah Diniyah Kecamatan Padang Timur, Forum Pemuda dan Mahasiswa Pariaman (FASPAR), serta menjadi Sekretaris Pemuda Korong Kampung Tangah (GeTar). Di tingkat masyarakat, ia juga memimpin TPQ Tahfidz Kampoeng Qur’an.
— Paragraf 16 —
Berbagai pengalaman tersebut membuatnya terbiasa bekerja secara kolektif, mengelola program sosial dan pendidikan, serta membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat.
— Paragraf 17 —
Kesadaran akan pentingnya peningkatan kapasitas juga mendorong Peri aktif mengikuti berbagai pelatihan. Di antaranya pelatihan kepemimpinan dan instruktur, pelatihan mubaligh Muhammadiyah di Kota Padang, hingga pelatihan kewirausahaan.
Pelatihan-pelatihan tersebut memperkaya wawasannya dalam memimpin organisasi sekaligus memperkuat kemampuannya dalam merancang program pembangunan yang realistis dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
— Paragraf 18 —
Dalam pencalonannya sebagai Wali Nagari Sikucur Timur, Peri Konaldi mengusung visi mewujudkan Nagari Sikucur Timur yang MANTAP: maju, agamis, mandiri, transparan, adil, dan profesional dalam bingkai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Menurutnya, pembangunan nagari tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik semata, tetapi juga menyangkut penguatan nilai-nilai yang menjadi identitas masyarakat Minangkabau.
— Paragraf 19 —
Untuk mewujudkan visi tersebut, sejumlah agenda pembangunan menjadi fokusnya. Di antaranya mengoptimalkan potensi nagari melalui kolaborasi dan jaringan pembangunan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pertanian, UMKM, dan pariwisata, serta menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai kekuatan sosial masyarakat.
— Paragraf 20 —
“Saya menilai penting menjaga keseimbangan antara nilai agama dan adat istiadat dalam kehidupan nagari. Filosofi Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin harus kembali diperkuat dengan melibatkan alim ulama, cadiak pandai, niniak mamak, bundo kanduang, serta pemuda dalam setiap proses pengambilan keputusan,” kata Peri.
— Paragraf 21 —
Selain itu, Peri juga menaruh perhatian besar kepada generasi muda. Bila dipercaya memimpin nagari, dia ingin agar pemuda mendapatkan perhatian serius, mulai dari pembinaan dan pengembangan olahraga, hingga skill generasi muda di dunia kerja.
— Paragraf 22 —
“Olahraga akan terus kita bina, yang tidak kalah penting adalah skill kemampuan kerja yang akan kita upayakan melalui pelatihan kerja dan semacamnya, sesuai dengan bidang yang banyak dibutuhkan saat ini, agar adek-adek kita pemuda Sikcur Timur dapat lebih produktif,” ungkapnya.
— Paragraf 23 —
Selain itu, Peri juga menilai perlunya mengaktifkan kembali lembaga-lembaga nagari sebagai bagian dari sistem pembangunan dan pengawasan, sekaligus mewujudkan pemerintahan nagari yang transparan, aspiratif, dan profesional. Peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat juga menjadi perhatian penting dalam programnya.
— Paragraf 24 —
Bagi Peri Konaldi, kepemimpinan bukan jabatan yang dikejar, tapi amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia meyakini bahwa membangun nagari merupakan bentuk pengabdian yang memiliki nilai ibadah.
— Paragraf 25 —
Moto yang ia pegang sederhana namun sarat makna, yaitu pengabdian kepada nagari adalah bagian dari ibadah dan pekerjaan yang mulia.